Anak Kecil Penjual Koran oleh ABDUL, CITRA, RETA

Posted: Februari 17, 2011 by Reta Riayu Putri in Tugas TIK T.P. 2010/2011
Tag:, ,

Ini merupakan hasil wawancara kami dari kelas 9.4 (RETA RIAYU PUTRI , CITRA LARASATI , ABDUL KALIK)

Yang mewawancarai seorang anak kecil penjual koran yang sudah putus sekolah pada tanggal 5 Februari 2011 di simpang lampu merah Batam Center.

Hal ini merupakan cerminan bagi kita betapa beruntungnya kita yang masih dapat bersekolah untuk menggapai cita-cita setinggi mungkin yang kita inginkan.

Ini merupakan bagian dari teks isi wawancara tersebut, check it out

Namanya siapa dek yang baju putih?

Namanya Purnama.”

Yang cowok siapa?

Anjung.”

Umurnya berapa?

Delapan.”

Kalau yang cowok?

Enam.”

Pernah Sekolah?

Pernah.”

Sampai kelas berapa?

Kelas 3.”

3 SD?

Iya.”

Yang itu (yang cowok) pernah sekolah?

Iya.”

Sekolah apa?

TK.”

TK?

Iya.”

Oh, sekarang udah enggak sekolah lagi kalian berdua?

Tidak.”

Kenapa berhenti sekolah?

Kami kemaren pulang kampung.”

Jadi habis itu nggak sekolah lagi?

Enggak.”

Terus jual koran disuruh atau mau sendiri?

Mau sendiri”

Mau sendiri?

Iya.”

Nggak dipaksa orang tua?

Enggak.”

Mamanya ada?

Ada.”

Mamanya enggak kerja?
“Tuh yang pakek topi kuning.”

Ooh.., ini adek ini (yang cowok) juga jual koran?
“Iya.”

Disuruh nggak?

Enggak.”

Enggak dipaksa orang tua?

Enggak.”

Korannya biasanya berapa jualnya?
“Dua Ribu.”

Duaribu, pernah ada yang jahatin nggak pas lagi jual koran?

Pernah.”

Diapain?

Ditendang.”

Ditendang? Dipukul Pernah?

Pernah.”

Itu kenapa? Itu kenapa dipukul?

Orangnya Jahat.”

Ooh, bapaknya kerja apa?

Bapak sudah meninggal.”

Sudah meninggal? Sama ya, ini adeknya ya (yang cowok) ?

Iya.”

Berapa bersaudara?

Delapan.”

Delapan? Kakak yang paling pertama mana?

Dirumah.”

Gak kerja?

Sekolah.”

SD, SMP, atau SMA?

SMP.”

Cewek ya?

Iya.”

Sekarang Ini apa, jual koran siangnya makan siang nggak?

Enggak.”

Nggak lapar?

Lapar.”

Lapar?

Iya.”

Trus kalau ngadu Orang tua misalnya “ma lapar” dikasih makan enggak?

Dikasih.”

Dikasih? Biasanya korannya laku berapa?

Dikit.”

Laku dikit?

Iya.”

Kalau laku dikit dimarahi orangtuanya nggak?

Enggak.”

Enggak? Pernah nggak dipukul Orang tuanya gara gara nggak mau jual koran?

Enggak Pernah.”

Enggak pernah?

Iya.”

Kalau hari hujan juga jual koran?

Iya.”

Enggak Basah?

Basah.”

Terus Gimana? Tetap laku?

Iya.”

Cara jual korannya gimana? Ngetok ngetok pintu mobil orang?

Enggak.”

Enggak? Jadi gimana?

Dikacanya.”

Dikacanya?

Iya.”

Ada nggak orang yang baik yang suka ngasih uang lebih gitu untuk bayar korannya, maksudnya uang kembalinya diambil aja gitu nggak usah di kembaliin?

Nggak Pernah.”

Nggak pernah? Adanya orang yang jahat aja?

Iya.”

Biasanya sehari dapet berapa?

Kadang dua puluh, kadang tiga puluh.”

Tiga puluh ribu, itu nanti uangnya dikasih orangtuanya?

Iya.”

Terus orang tuanya dikasih ke siapa? Enggak untuk makan?

Iya.”

Biasanya kerja jual koran sampai jam berapa?

Jam dua.”

Dua siang?

Iya.”

Terus Pulang kemana?

Ke Tanjung Uma.”

Rumahnya di Tanjung Uma?

Iya.”

Pulangnya naik apa?

Naik angkot.”

Sama mamanya?

Iya.”

Ini.. apa, nggak mintak sekolah sama mamanya?

Nggak ada yang nerima.”

Nggak ada yang nerima?

Iya.”

Pingin sekolah enggak?

Pingin.”

Terus mamanya nggak mau nyekolahin?

Mau tapi enggak ada yang nerima.”

Ooh, adiknya (yang cowok) ini juga… ini adeknya?

Iya.”

Adeknya yang keberapa?

Ke empat.”

Keempat, yang paling kecil umur berapa?

Dia (adek yang cowok).”

Yang paling kecil dia?

Iya.”

Ooh, ee.. nggak capek ya tiap hari jual koran?

Capek…”

Capek? kok nggak mau berhenti aja, apa di paksa orang tuanya?

Bukan.”

Jadi kenapa?

Mau sendiri.”

Mau sendiri? Kok mau jual koran sih, kenapa enggak mau main aja?

Enggak, dari pada di rumah mendingan jual koran…”

Ooh… di Tanjung Uma rumahnya dekat mana?

Dekat DC mall.”

Dekat DC mall? Ooh pernah main nggak sama teman sebayanya?

Enggak.”

Enggak pernah main? Kerja terus?

Iya.”

Kalian enggak pingin main?

Enggak.”

Kalau misalnya nanti ada yang nawarin sekolah mau enggak?

Mau.”

Dulu sempat sekolah di mana?

Di kampung.”

Di kampung, ooh cita citanya kalau gede mau jadi apa?

Sekolah.”

Purnama.. ini, Purnama, kan?

Iya.”

Kalau gede cita citanya mau jadi apa? Dokter atau guru atau apa?

Guru.”

Guru, adek ini (yang cowok) kalau gede mau jadi apa? Pilot, atau polisi atau apa?

Polisi.”

Ha.. polisii?

Iya.”

Bisa baca enggak?

Enggak.”

Enggak bisa baca?

Enggak.”

Pas berhenti sekolah itu, itu belum bisa baca?

Udah.”

Udah dikit?

Udah.”

Sekarang bisa baca enggak?

Enggak ingat.”

Enggak ingat lagi?

Enggak.”

Pernah nggak ada orang yang nawarin mau sekolah?

Enggak.”

Enggak ada?

Enggak.”

Ho’oh, jualnya koran apa aja?

Tribun, Tribun aja.”

Tribun aja?

Iya.”

Eee.. nerimanya itu pagi pagi ya korannya?

Iya.”

Terus nanti jual korannya dimana aja dekat sekitar jalan apa aja?

Di sini.”

Dekat Batam Centre sini aja?

Iya, sama Pelabuhan.”

Sama Pelabuhan?

Iya.”

Ke Pelabuhannya sama siapa?

Sendirian.”

Sendirian? Jalan atau gimana?

Jalan.”

Jalan? Orang tuanya nggak kasihan?

Enggak.”

Nggak mau nganterin?

Enggak.”

Trus kamu mau di suruh ke Pelabuhan?

Mau.”

Mau? Di Pelabuhan itu nanti kalau korannya belum habis gimana? Enggak dimarahin?

Enggak.”

Trus nanti pulangnya jalan lagi?

Iya.”

Pulang sendiri ketanjung uma? Jalan?
“Iya.”

Nggak naik angkot sama orang tuanya?

Enggak.”

Oooh ….ooh…tapi kalu ada yang mau nawarin sekolah mau?

Mau.”

Mau? Oooh yaudah, makasih ya dek?

Iya.”

Komentar
  1. retariayu mengatakan:

    Hehe, thank u so much Andreaaassss😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s